Selasa, 10 Maret 2020

Metode Pengajaran Di Darul Qurro



Al-tarîqah ahammu min al-mâddah, al-mudarris ahammu min al-tarîqah,
wa rûh al-mudarris ahammu min al-mudarris”.
 Artinya:metode itu lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode, dan jiwa guru lebih penting daripada guru itu sendiri.
Sebuah  lembaga pendidikan tidak dapat dijamin akan berhasil hanya karena program-programnya telah dirancang secara baik. Diperlukan metode yang benar dan tepat, agar penyelenggaraan kegiatan pendidikan ini berlangsung dan berhasil daya secara maksimal. Berikut ini beberapa metode pendidikan di Pondok Darul Qurro:
a.       Keteladanan
Keteladanan (uswah hasanah) merupakan metode pendidikan yang efektif dan efisien. Hal ini dibuktikan oleh keberhasilan praktik pendidikan yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW.  Disebutkan dalam firman Allah:
لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله و اليوم الآخر و ذكر الله كثيرا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(Q.S. al-Ahzâb: 21)
Dalam waktu yang singkat, Nabi SAW telah berhasil membawa bangsa Arab keluar dari kebobrokan sistem dan tatanan kehidupan era jahiliyah dan kegelapan menuju sistem dan tatanan kehidupan yang unggul dan bermartabat di bawah sinaran cahaya tauhid.
Penanaman nilai-nilai keikhlasan, perjuangan, pengorbanan, kesungguhan, kesederhanaan, tanggung jawab, dan lainnya akan lebih mudah dan tepat sasaran dengan pemberian keteladanan. Penanaman nilai-nilai semacam di atas tidak bisa hanya dilakukan melalui pengarahan, pengajaran, diskusi, dan sejenisnya,  karena hal tersebut lebih menyangkut masalah perilaku, bukan semata-mata masalah keilmuan.
Keteladanan juga diwujudkan melalui produktifitas dalam berkarya.  Seorang pemimpin dan semua pendidik harus menjadi teladan bagi anak didiknya. Di samping itu, pondok sebagai lembaga juga harus menjadi teladan dalam hal produktifitas. Di Darul Qurro, bagian terakhir ini ditunjukkan melalui aktifitas pembinaan masyarakat, baik pengajian rutin maupun tabligh akbar; pendirian Pondok; pembukaan usaha-usaha ekonomi dalam berbagai bidang; perluasan jaringan kerja dengan berbagai pihak; dan seterusnya.
b.      Penciptaan lingkungan(conditioning)
Lingkungan memainkan peran penting dalam proses pendidikan. Dalam pendidikan pesantren dengan sistem asramanya dengan tepat dapat disebut sebagai adanya suatu kesadaran mengenai betapa pentingnya peran lingkungan dalam proses pendidikan. Dengan berada dalam lingkungan yang sama antara guru dan murid,  lebih dimungkinkan terjadinya interaksi dan proses pendidikan dan pembelajaran yang berlangsung terus menerus. Santri bukan hanya dapat belajar secara langsung kepada gurunya mengenai persoalan-persoalan keilmuan, tetapi juga belajar mengenai persoalan-persoalan kehidupan. Kyai dan guru dalam lingkungan pesantren itu merupakan figur-figur yang menjadi sumber keteladanan bagi para santri dalam semua dimensi kehidupan. 
Terlebih lagi dalam sistem pendidikan pesantren modern, lingkungan dirancang secara sistematis untuk menjadi bagian yang sangat penting dalam proses pendidikan. Santri diwajibkan tinggal di kampus dengan menempati asrama-asrama yang telah ditentukan. Kehidupan mereka selama 24 jam diatur dan diprogram dengan kegiatan-kegiatan yang produktif dan kondusif untuk pencapaian tujuan pendidikan secara lebih optimal. Dalam kehidupan di asrama para santri memperoleh pendidikan kemasyarakatan.
Pendidikan nilai-nilai kebersamaan, tolong-menolong, pengorbanan, tanggungjawab, kejujuran, dan nilai-nilai sosial lainnya diselenggarakan dalam kehidupan berasrama. Latihan berorganisasi dan kepemimpinan juga diperoleh santri dalam kehidupan berasrama. Penempatan santri di asrama tidak didasarkan pada asal daerah, kelas, prestasi akademik, maupun status sosial.
Penempatan itupun tidak bersifat permanent; setiap satu semester selalu diadakan perpindahan antar kamar, sedangkan perpindahan antar asrama dilakukan setahun sekali. Di asrama para santri latihan berinteraksi sosial dengan santri lain dari latar belakang  yang berbeda-beda; daerah, suku, bangsa, sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan santri di asrama dan seluruh kegiatan santri yang lain dijadwal secara ketat dan dilaksanakan dengan disiplin yang tinggi.
Sebuah  lembaga pendidikan tidak dapat dijamin akan berhasil hanya karena program-programnya telah dirancang secara baik. Diperlukan metode yang benar dan tepat, agar penyelenggaraan kegiatan pendidikan ini berlangsung dan berhasil daya secara maksimal. Berikut ini beberapa metode pendidikan di Pondok Darul Qurro:
c.  Pengarahan
Pengarahan merupakan metode yang penting dalam pendidikan. Sebelum menjalankan suatu program ataupun tugas, seseorang harus mengerti lebih dulu apa sebenarnya tugas yang sedang dikerjakan itu, apa tujuan dari program dan tugas yang telah dicanangkan tersebut, serta bagaimana melaksanakannya secara efektif dan efisien.
Pelaksanaan program-program diawali dengan kegiatan pengarahan Pengarahan-pengarahan itu sebenarnya lebih ditekankan pada sisi nilai dan filosofinya, yaitu nilai-nilai dan filosofi pendidikan yang terkandung di dalamnya. Dengan memahami apa pekerjaan yang dilakukan, mengapa ia melakukan, dan juga mengetahui bagaimana suatu pekerjaan itu dilaksanakan, seseorang akan lebih berpeluang memperoleh hasil maksimal dari pekerjaan-perkerjaan itu.
d.  Penugasan
Semua lembaga, organisasi, dan unit di Darul Qurro dijalankan oleh para guru dan santri sendiri. Tugas seorang guru di Darul Qurro tidak hanya mengajar dan membimbing santri, mereka juga diberi tugas untuk mengelola lembaga-lembaga yang ada di Pondok yang tidak selalu lembaga akademik.
Demikian pula para santri, mereka diberi tugas-tugas bervariasi mulai memimpin organisasi, mengurus kesekretariatan dan administrasi, menangani koperasi, sampai membersihkan kamar mandi dan toilet, menyapu asrama, mengangkut sampah ke tempat pembuangan, dan lain-lain. Semua itu sudah menjadi pemandangan yang lumrah di Darul Qurro.
Tetapi lebih dari itu, di balik pemandangan itu terdapat kandungan nilai-nilai pendidikan yang hendak ditanamkan oleh Pondok kepada para santri. Pendidikan kepemimpinan, kemasyarakatan, kewirausahaan, dan berbagai ketrampilan dapat dicapai secara lebih efektif dan efisien melalui penugasan, praktek, atau magang semacam itu. Pengerjaan tugas-tugas itu sangat bermanfaat bagi santri yang mengalaminya.
Santri juga dipahamkan bahwa tugas-tugas yang mereka kerjakan itu manfaatnya kembali kepada mereka sendiri. Kepada mereka ditanamkan bahwa semua yang mereka perbuat itu adalah untuk kebaikan mereka sendiri; kalau mereka berbuat baik, maka sesungguhnya mereka telah berbuat untuk diri mereka sendiri; kalau mereka bersyukur, berarti mereka telah bersyukur untuk diri mereka sendiri; dan bahwa sebesar-besar keinsafan seorang santri dalam menjalankan suatu tugas, maka sebesar itu pula keuntungan yang akan diperolehnya.
e.  Pengajaran
Metode pengajaran yang umum digunakan di pesantren adalah metode sorogan dan wetonan atau bandongan. Metode-metode ini memiliki kelebihan-kelebihan tertentu, terbukti telah banyak tokoh agama dan ulama yang dilahirkan dengan menggunakan metode ini. Tetapi, ditinjau dari sisi efektifitas dan efisiensi, tampaknya metode ini kurang dapat memenuhi kriteria tersebut. Karena itu, perlu metode belajar yang lain yang lebih memungkinkan seorang santri atau peserta didik bisa belajar dengan lebih efektif dan efisien. 
Di Darul Qurro pengajaran dilakukan dengan menghadirkan sistem klasikal dan penjenjangan dalam proses belajar mengajar. Santri dengan tingkat kemampuan yang sama dikelompokkan kelas-kelas dalam jumlah tertentu yang dibatasi. Pengajaran yang berlangsung dalam satu kelompok terbatas, dengan tingkat kemampuan yang merata, ini memudahkan bagi seorang guru untuk mengetahui kadar penguasaan santri terhadap pelajaran yang telah diberikan.
Seorang guru dapat mengevaluasi pemahaman santri terhadap pelajaran yang telah diberikan pada setiap awal pelajaran, dan mengevaluasi pemahaman mereka terhadap pelajaran yang sedang disampaikan pada ketika menerangkan maupun menjelang usainya pelajaran. Metode pengajaran yang diterapkan di Darul Qurro tidaklah sama untuk setiap mata pelajaran. Metode itu disesuaikan dengan  mata pelajaran yang cocok. Mata pelajaran tertentu menghendaki metode yang berbeda dari mata pelajaran lainnya. Metode-metode yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar antara lain metode ceramah, dialog atau tanya-jawab, latihan, diskusi, demonstrasi, dan metode penugasan. Hapalan juga digunakan untuk mata pelajaran tertentu yang memang menghendakinya.
f.  Pembiasaan
 Seluruh penghuni pondok dibiasakan dapat mengikuti kegiatan-kegiatan pondok dengan disiplin yang tinggi, penetapan disiplin tidak hanya untuk santri tapi juga untuk guru-guru, kader, anshar dan keluarga. Sehingga seluruhnya dibiasakan dengan kebiasaan yang tinggi dengan pengarahan baik dari kyai, guru dan lain sebagainya. Santri dibiasakan untuk melaksanakan disiplin dan kegiatan-kegiatan dari yang ringan ke yang berat, dari yang mudah ke yang susah, dari sederhana ke yang lebih rumit, dan begitu seterusnya. Dalam kasus tertentu terkadang juga perlu dipaksa untuk menjadikan biasa.


Share:

0 comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.